Kamis, 22 Juli 2010

Siska Dan Sisti

Siska Dan Sisti

Nama saya James. Sekarang saya kuliah di US. Kejadian ini waktu saya
masih SMA di Jakarta. Waktu itu saya sudah punya pacar namanya Sisti.
Kita sudah pacaran kurang lebih 2 tahun semenjak awal masuk SMA di
Bandung. Gara-gara saya berantem sama kepala sekolah akhirnya saya
pindah ke Jakarta. Hubungan kita masih lancar-lancar saja waktu itu.
Kalau nggak saya yang telepon kadang dia. Dan kalau saya kangen, pulang
sekolah langsung cabut ke Bandung untuk menengok dia, pagi-pagi jam 2
langsung dari Bandung ke sekolah lagi. Soal menginap, biasanya saya
sering tidur di kamarnya kalau di rumah sepi banget. Ibunya sih sudah
liberal banget, maklum blasteran bule. Masih muda banget tuh ibunya.
Waktu itu masih 35 tahun, kadang malah kalau jalan sama saya berdua
menemani dia belanja disangka teman-teman.. “Eh James, siapa tuh cewek
loe, tua amat?” Hahahahhaha.. dia punya anak dua, kembar, Sisti dan
Siska. Kembar, putih, tinggi, lucu, soal body nggak usah saya ceritakan
deh, tahu Jeniffer Lopez? nah kayak gitu tuh si kembar. Siska juga sudah
punya pacar kebetulan sobat saya juga.

Hubungan kita sudah dekat banget. Sejak awal memang saya sudah “ngeseks”
sama dia. Dan orang tuanya sama saya sudah nggak ada masalah kalau
misalnya salah satu datang terus menginap (soal “ngeseks” nggak tahu
tentu saja). Ceritanya nich kembar berdua datang ke Jakarta mau belanja.
Jadi minta ditemani oleh saya untuk jalan-jalan keliling Jakarta.
Kebetulan di Jakarta rumah mereka lagi direnovasi. Saya suruh saja
menginap di rumah saya. Lagian orang tua saya lagi pergi, jadi kosong.
“Ok deh”, kata mereka. Malamnya terus kita jalan-jalan ke Zanzibar,
janjian sama teman. Saya nggak berani minum banyak-banyak soalnya
pulangnya nyetir. Tapi tuh si kembar dicekokin sama teman-teman banyak
banget sampai nggak kepalang maboknya. Akhirnya jam 4 kita pulang dan
setelah berusaha keras merayu Siska buat turun joget-joget dari meja,
terus menggotong Sisti ke mobil bla.. bla.. bla.. sampai deh di rumah.
Sampai di kamar akhirnya tanpa ba bi Bu lagi kita langsung tidur
bertiga, biarpun AC jalan tapi gara-gara mabok tetap saja kepanasan.
Akhirnya saya buka celana panjang saya hingga tinggal CD saja, terus
saya menggeletak di tengah-tengah mereka. Tapi berhubung kepala saya
pusing dan tahu dong, kalau mabok bawaannya tegang mulu. Saya mulai
meraba-raba Sisti (biar mabok tapi saya bisa bedain pacar saya yang mana).

Pertama-tama saya selipkan tangan saya kedalam kemejanya. Terus jemari
saya menjelajah kemana-mana di dalam BH-nya. Lama banget saya memainkan
putingnya, dipelintir-pelintir terus dielus-elus lagi. “James.. buka
saja belakangnya biar lega”, kata Sisti tiba-tiba. “Tapi jangan ribut
ya, nggak enak sama Siska, lagian kamu gila ya.. sodaraku disebelah!”
bisiknya. “Ah biar saja, kamu juga mau khan..” kata saya nggak sabar
sambil melepaskan tali BH-nya sama buka kemejanya, habis itu saya
cium-ciumi payudaranya, kadang-kadang saya jilat-jilat pentilnya pakai
lidah membuat lingkaran di buah dadanya. Kemudian naik lagi ke lehernya,
saya cium-ciumi belakang kupingnya sampai si Sisti
menggelinjang-gelinjang. Lalu turun lagi ke bawah mencium-ciumi ujung
dadanya yang merah kecil sambil saya cubit-cubit kecil ujung satunya
dengan tangan kanan saya. “Sudah James.. cepet donk.. buka celanaku
sudah nggak kuat nih, ahh James.. tega ih kamu! jangan lama-lama dong
say..!” Karena saya juga nggak tahan, saya buka juga celana hipster
hitamnya sekalian sama celana dalamnya. Terus terang saya paling suka
memainkan kelentit wanita, bukan karena nikmat tapi saya suka banget
lihat tampang mereka kalau dimainin pakai lidah terus bibir vaginanya
digigit-gigit, sepertinya kejatuhan surga, nikmat banget.

Sekitar sepuluh menit saya memainkan vaginanya sampai kepala saya
didekap sama kakinya, keras banget. Tangannya mendorong-dorong kepala
saya buat menjilat lebih dalam lagi. “Jamess, masukiin dongg! cepet!”
katanya. “Mm.. tapi basahin dulu punyaku.. mau nggak?” kata saya. “Iya..
sini Sisti isepp!” Akhirnya kita tukar posisi, saya di bawah dan dia
mulai menghisap penis saya. Biarpun saya sering senggama sama wanita
lain, kalau soal menghisap kayaknya cewek saya masih paling jago. Penis
saya sih nggak panjang-panjang amat hanya 15 cm tapi gede dan berhubung
bibir cewek saya kecil jadi dia rada-rada kesusahan buat menghisapnya.
Ujungnya sama dia dijilat-jilat dulu terus dimasukan sebagian. di
dalamnya sama Sisti dimainkan pakai lidah, dikeluarkan lagi, dihisap
lagi sampai ke ujungnya terus didiamkan di mulutnya. Yang membuat saya
paling nggak kuat kalau sama dia penis saya dikenyot-kenyot kayak
menghisap jolly. Serasa isinya mau keluar semua. Saking saya keenakan
sampai nggak sadar tangan saya pegang kepalanya buat menahan agar penis
saya nggak dikeluarkan dari mulutnya. “Aahh mm.. teruss sayangg!” desah
saya sambil masih menahan kepalanya, kayaknya dia sudah mulai kesusahan
napas.

Tiba-tiba bibir saya dicium dan begitu buka mata ternyata Siska. Dia
ternyata kebangun mendengar erangan kita tapi diam saja, tapi nggak kuat
juga akhirnya. Saya cium juga dia. “James, jahat ih kamu berdua.. nggak
mikir apa aku lagi bobo?” katanya. “Sis.. sorry habis sudah konak neh..”
“Tahu nggak James jadinya.. Siska khan jadinya horny banget!” “Ok deh
Sis.. ma’ap.. jadi mesti gimana dong?” “mm.. kamu cium-cium punyaku
kayak ke Sisti lagi dong? mau nggak?” “Ok.. buka gih celananya aku
isepin sini..” Siska buka celana sama kaosnya, terus naik ke atas
mukaku. Sisti ternyata nggak keberatan, sama-sama sudah horny berat sih
berdua. Akhirnya kita main threesome, saya hisap vagina Siska terus
Sisti naik ke penis saya. “Aahh Jamess.. emang kamu top banget deh..
teruss jilat itunya sayang..!”

Enggak lama kita tukar posisi, saya suruh Sisti tiduran, terus Siska
saya minta telungkup. Jadi saya masukin penis saya lewat belakang (doggy
style), ahh ternyata nggak kalah sama vagina kembarannya, sama-sama
masih rapat! Sambil saya mensetubuhi si Siska, tangan saya menjelajah
vagina Sisti, saya masukan jari tengah saya kedalam sambil jari saya
yang lain mulai berusaha memegang analnya, saya nggak pernah senggama
lewat anal cuma kalau sekarang pegang-pegang doang sih sering, nambah
sensasi. Ternyata saking keenakan, mereka berdua ciuman, sambil
tangannya memegang payudara kembarannya, saya jadi tambah napsu sekali
melihatnya. Akhirnya saya pindah ke Sisti, saya angkat salah satu
kakinya terus saya masukan penis saya dari samping. Huwii, ini salah
satu favorit saya juga. Enggak kebayang rasanya paha saya kegesek-gesek
sama pahanya, terus penis saya masuk lewat pinggirnya, rasanya lain
banget daripada saya di atas. Siska kemudian mulai memainkan lidahnya di
payudara Sisti sambil memegang vaginanya. “Ahh Jammess bentar lagi
sayangg.. aahh..” ternyata Sisti sudah sampai klimaks, saya pindah untuk
melakukan hal yang sama-sama Siska cuma kali ini saya minta dia
membalikkan badan sambil tiduran, terus saya masukan dari belakang.
“Aahh Jamess tegaa ih kamu.. nikmat banget tuhh truss truss!” “Siska..
rapetin kaki kamu donk.. iya gitu sayang..!” Ini posisi yang buat saya
cepat keluar. Kakinya dirapatkan terus saya kocok-kocok dari
belakangnya. “Siska aku mau keluar nich.. di dalem yaa..” kata saya.
“Jangan Jamess!” kata Siska. “Sini aku isep saja ya.. dikeluarin di
mulut Siska!” saya masukan ke mulutnya, ternyata Sisti juga nggak mau
kalah, yang ada kayak rebutan. Gila juga ternyata Siska menghisapnya.
Sambil menghisap tangannya mengocok-ngocok penis saya. Sisti lagi
menciumi biji saya. “Ahh Siss.. Jamess keluarr nichh!” Akhirnya saya
keluarkan sperma saya di mulutnya sambil saya tahan kepalanya dia agar
menghisap terus.

Selesai itu kita bertiga langsung tidur kecapaian. Pagi-paginya bangun,
yang ada malah cekikikan. “Eh Siska bandel ya! ngapain saja sama si Aryo
kalau berdua yo hahahah”, goda saya sama Sisti. “Ah kalian juga sama
hihihihhih”, katanya.

Lain kali saya ceritakan pengalaman saya sama pacar saya yang lain, juga
sama ibuya. Sorry kalau saya ceritanya rada-rada ngelantur kemana-mana,
tapi ini kejadian benar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar